Kapanlagi.com – Siapa yang tidak kenal dengan Ikang Fawzi? Lahir sebagai Ahmad Zulfikar Fawzi pada 23 Oktober 1959, ia adalah salah satu ikon musik dan film Indonesia. Dikenal sebagai bintang rock di era 1980-an, perjalanan kariernya sangat menarik untuk disimak. Dari lagu-lagu hits yang mengguncang panggung hingga perannya dalam film, Ikang telah meninggalkan jejak yang mendalam di industri hiburan Tanah Air.
1. Karier Musik yang Mengguncang
Ikang Fawzi menjadi terkenal berkat lagu-lagu rocknya yang catchy dan energik. Di tahun 1980-an, ia merilis beberapa lagu hits yang masih diingat hingga kini. Beberapa di antaranya merupakan cover dari penyanyi legendaris seperti Fariz RM dan Nicky Astria. Meski karier musiknya berakhir pada tahun 1990-an, nama Ikang tetap dikenang sebagai salah satu musisi ikonik Indonesia. Ia pun berpindah ke dunia bisnis, tetapi cinta dan passion terhadap musik tak pernah padam dalam dirinya.
Selain menjadi penyanyi, Ikang juga menunjukkan bakat aktingnya di layar lebar. Salah satu film yang membuatnya semakin dikenal adalah ‘Negeri 5 Menara’. Dalam film tersebut, ia berhasil menarik perhatian penonton dengan aktingnya yang memukau. Tak heran jika banyak penggemar yang mengagumi talenta serba bisa ini.
(Ayo ikuti saluran WhatsApp KapanLagi.com biar enggak ketinggalan update dan berita terbaru seputar dunia hiburan tanah air dan juga luar negeri. Klik di sini ya, Klovers!)
2. Kisah Cinta yang Abadi
Kisah cinta Ikang Fawzi dan Marissa Haque juga tak kalah menarik. Mereka bertemu di lokasi syuting film ‘Tinggal Landas Buat Kekasih’ pada tahun 1984. Dari pertemuan itu, benih cinta pun tumbuh dan mereka menikah pada 12 April 1987. Pasangan ini dikaruniai dua anak perempuan kembar, Chiki dan Isabella, yang lahir pada tahun 1989. Kehidupan rumah tangga mereka selalu terlihat harmonis dan penuh kasih sayang.
Namun, kebahagiaan itu tidak selamanya. Kepergian Marissa Haque pada 2 Oktober 2024 meninggalkan ruang kosong yang sulit diisi dalam hidup Ikang. Meski sudah berusaha menata hidup, Ikang mengakui bahwa dirinya masih dalam proses untuk terbiasa menjalani hari-hari tanpa kehadiran istri tercinta. Saat ditemui di kawasan Jalan Kapten Tendean, Mampang, Jakarta Selatan, Ikang bercerita tentang rasa kehilangan yang masih kerap dirasakannya setiap hari. “Belum 100 persen sih, tapi menuju,” kata Ikang ketika ditanya apakah sudah mulai terbiasa dengan semua tanpa kehadiran Marissa.
Advertisement
3. Proses Berduka dan Kenangan Bersama
Hal yang paling terasa berat baginya adalah momen pagi hari, saat memulai aktivitas. “Ya, setiap kali bangun pagi tuh saya selalu melihat dia, mencium di situ. Saya pergi, ya pasti dengan doanya dia, diurusin juga kan pagi-pagi sarapan saya,” kenangnya dengan suara lirih. Bagi Ikang, anak-anaknya menjadi penguat dalam masa sulit ini. Namun, pria berusia 63 tahun tersebut merasa perbedaan pengalaman waktu membuat dirinya lebih merasakan kehilangan dibandingkan anak-anak.
“Anak-anak sendiri ya Alhamdulillah, anak lebih kuat lah. Karena emang aku yang melewati 38 tahun bersama istri saya tercinta. Kalau anak-anak kan ya dia sayang banget sama ibunya. Tapi saya lebih lama hidup sama istri saya daripada sama orang tua saya. Bisa dibayangin lah,” ungkapnya. Ikang juga menceritakan bagaimana Marissa seolah sudah memberikan banyak pesan dan tanda-tanda sebelum kepergiannya. Pesan-pesan tersebut kini menjadi pegangan keluarga.
4. Kekuatan dari Anak-Anak
Dalam masa berkabung ini, Ikang mengungkapkan bahwa anak-anaknya menjadi pendukung terbesarnya. Meski banyak teman yang hadir, Ikang merasa anak-anak lebih memahami beratnya kehilangan. “Yang paling merasakan memberikan support sama saya itu ya anak-anak saya. Yang lain ya luar biasa, tapi biar gimana dia nggak tahu seberapa berat dan seberapa besar ketergantungan kita terhadap Almarhum,” jelasnya. Ikang merasa bersyukur memiliki anak-anak yang perhatian, terutama anak perempuannya yang kini menggantikan peran Marissa dalam mengurusnya.
“Untung ya di sini saya diberikan anak perempuannya, jadi lebih care sama bapaknya. Kayak tadi mau berangkat ke sini aja, walaupun pagi-pagi jam 5 pagi, mereka bangun juga. Berusaha untuk menyiapkan apa-apa hal-hal yang dibiasakan ibunya lakukan,” tutur Ikang. Rutinitas doa bersama juga menjadi bagian penting dalam proses menerima kepergian Marissa. Ikang bersama anak-anaknya kerap sholat berjamaah dan mendoakan Marissa. “Setiap kali kita optimalkan sholat berjamaah bersama-sama. Pada saat itulah kita mendoakan ibunya anak-anak,” katanya.
5. Keyakinan dan Harapan
Ikang percaya bahwa apa yang terjadi adalah bagian dari rencana Tuhan yang terbaik. Keyakinan ini membantunya menghadapi ujian kehidupan. “Yang terbaik buat kita itu bukan itu terbaik buat Allah. Jadi yang terbaik buat Allah ya otomatis yang terbaik buat kita. Ini yang terjadi dengan saya,” tutup Ikang dengan penuh keyakinan. Kisah hidup Ikang Fawzi mengajarkan kita tentang cinta, kehilangan, dan kekuatan keluarga. Semoga kenangan akan Marissa Haque selalu hidup dalam hati mereka selamanya.
Berita Lainnya
-
Mulai Berdamai dengan Kenyataan, Ikang Fawzi: Kenangan Marrisa Haque Jadi Ritme Baru Kehidupan Saya
-
Ikang Fawzi Kenang Almarhumah Istri Lewat Mimpi: Selalu Bahagia dan Selalu Tersenyum
-
Ikang Fawzi Akui Beratnya Kehilangan Marissa Haque, Sebut Sangat Sulit Menjalani Hari-Hari Tanpa Sang Istri
-
Ikang Fawzi Akan Rilis Lagu Ciptaan Marrisa Haque: Ini Momentum yang Pas
(Ayo ikuti saluran WhatsApp KapanLagi.com biar enggak ketinggalan update dan berita terbaru seputar dunia hiburan tanah air dan juga luar negeri. Klik di sini ya, Klovers!)